The Problem of Evil
pertanyaan logika tentang keberadaan Tuhan di tengah penderitaan dunia
Pernahkah kita duduk diam setelah membaca berita, lalu merasa dada kita sesak? Kita melihat laporan tentang perang yang merenggut nyawa orang tak bersalah. Kita melihat bencana alam yang menyapu bersih sebuah kota kecil. Atau mungkin, sesuatu yang lebih dekat: seorang teman baik yang hidupnya jujur dan tulus, tiba-tiba divonis penyakit mematikan.
Di momen-momen seperti itu, ada satu pertanyaan yang hampir pasti mampir di kepala kita. Sebuah pertanyaan pendek, tapi beratnya minta ampun.
"Kenapa?"
Kenapa dunia ini terasa begitu tidak adil? Jika memang ada sosok pencipta yang memegang kendali atas alam semesta ini, kenapa Dia membiarkan semua rasa sakit ini terjadi?
Teman-teman, kita tidak sendirian saat menanyakan hal ini. Pertanyaan ini bukanlah tanda bahwa kita kehilangan harapan, melainkan bukti bahwa otak kita sedang bekerja mencari pola. Secara psikologis, manusia memiliki apa yang disebut sebagai just-world fallacy, sebuah bias kognitif di mana kita sangat ingin percaya bahwa dunia ini adil. Bahwa orang baik akan mendapat kebaikan, dan orang jahat akan dihukum.
Namun, realitas sering kali menampar kita dengan fakta yang sebaliknya. Dan benturan antara harapan dan realitas inilah yang memicu salah satu perdebatan paling tua, paling rumit, dan paling emosional dalam sejarah peradaban manusia.
Mari kita mundur sejenak ke masa Yunani Kuno, sekitar 300 tahun sebelum Masehi. Di sana ada seorang filsuf bernama Epikuros. Epikuros bukanlah orang yang suka duduk di menara gading; ia suka mengamati penderitaan manusia di sekitarnya.
Dari hasil pengamatannya, Epikuros merumuskan sebuah teka-teki logika yang sangat tajam. Teka-teki ini begitu brilian hingga terus dibahas oleh para pemikir, ilmuwan, dan teolog selama ribuan tahun setelah kematiannya. Kita mengenalnya dengan sebutan The Problem of Evil atau Masalah Kejahatan.
Secara historis, teka-teki ini tidak bermaksud untuk menghina siapa pun. Epikuros hanya menggunakan logika dasar untuk menguji konsep tentang Tuhan yang sempurna.
Coba kita bayangkan sebuah segitiga. Di sudut pertama, ada konsep bahwa Tuhan itu Maha Kuasa (omnipotent). Di sudut kedua, Tuhan itu Maha Baik (omnibenevolent). Di sudut ketiga, ada fakta tak terbantahkan: penderitaan dan kejahatan itu nyata di dunia ini.
Epikuros lalu menyodorkan pertanyaan yang membuat banyak orang pada zamannya garuk-garuk kepala. Jika Tuhan memang ingin mencegah kejahatan tapi tidak mampu, berarti Dia tidak Maha Kuasa. Jika Dia mampu tapi tidak ingin mencegahnya, berarti Dia tidak Maha Baik.
Lalu, jika Dia mampu dan Dia juga ingin mencegahnya, dari mana datangnya kejahatan?
Di sinilah otak kita mulai terasa seperti diajak lari maraton. Logika Epikuros ini menciptakan sebuah loop atau putaran tak berujung di kepala kita.
Selama berabad-abad, banyak tokoh sejarah mencoba memecahkan teka-teki ini. Ilmu yang khusus mempelajari pembelaan terhadap kebaikan Tuhan di tengah penderitaan ini disebut Theodicy (Teodise).
Ada yang berargumen bahwa penderitaan adalah ujian. Ada juga yang bilang bahwa rasa sakit dibutuhkan agar kita bisa menghargai kebahagiaan. Secara psikologis, ini masuk akal. Otak kita tidak bisa memproses konsep "terang" jika kita tidak pernah tahu apa itu "gelap". Kita tidak akan tahu rasanya "sehat" tanpa pernah merasakan "sakit". Konsep kontras ini disebut hedonic adaptation dalam psikologi.
Namun, argumen ini sering kali terasa kurang memuaskan. Oke, mungkin sakit flu menyadarkan kita betapa berharganya kesehatan. Tapi, bagaimana dengan gempa bumi yang menelan ribuan korban jiwa? Kontras macam apa yang sedang coba dibangun di sana? Mengapa harganya harus semahal itu?
Pertanyaan ini dibiarkan menggantung selama berabad-abad, menantang para pemikir terbaik yang pernah hidup di bumi. Kita seolah sedang menunggu satu jawaban pamungkas yang bisa menenangkan hati dan logika kita sekaligus.
Lalu, datanglah satu argumen yang dianggap paling kuat dalam sejarah untuk menjawab The Problem of Evil ini. Namanya adalah Free Will Defense atau Argumen Kebebasan Memilih.
Mari kita bedah perlahan. Bayangkan kita membuat sebuah robot yang diprogram untuk selalu memuji dan mencintai kita setiap hari. Apakah cinta dari robot itu terasa bermakna? Tentu tidak. Cinta hanya memiliki nilai jika ia diberikan secara sukarela, bukan karena paksaan atau program.
Para filsuf berargumen bahwa Tuhan memberikan manusia free will atau kehendak bebas agar cinta dan kebaikan yang kita lakukan memiliki makna sejati. Namun, harga dari kehendak bebas adalah risiko. Ketika manusia bebas memilih untuk berbuat baik, mereka secara otomatis juga bebas memilih untuk berbuat jahat.
Perang, penindasan, dan ketidakadilan bukanlah desain dari atas sana, melainkan konsekuensi logis dari kebebasan manusia. Ini adalah fakta sejarah dan sosiologi yang pahit.
Tapi tunggu dulu. Bagaimana dengan bencana alam? Tsunami, gunung meletus, atau virus? Itu bukan salah manusia, kan?
Di sinilah sains memberikan perspektif yang luar biasa membumi. Alam semesta kita diatur oleh hukum fisika, kimia, dan biologi. Lempeng tektonik harus bergeser untuk mendaur ulang karbon dan menjaga bumi tetap hangat. Virus bermutasi karena begitulah cara evolusi bekerja. Alam tidak jahat; alam hanya tidak peduli. Ia netral.
Menyadari bahwa alam semesta ini netral mungkin terdengar menakutkan, tapi justru di sinilah letak penemuan terbesar tentang diri kita.
Ketika kita melihat penderitaan, otak kita melepaskan hormon oksitosin. Hormon ini memicu empati. Secara evolusioner, rasa sakit yang kita rasakan saat melihat orang lain menderita adalah software bawaan manusia agar kita bertahan hidup sebagai spesies. Kita berevolusi untuk saling menolong.
Pada akhirnya, The Problem of Evil mungkin tidak akan pernah menemukan satu jawaban matematis yang bisa memuaskan semua orang. Dan mungkin, memang tidak seharusnya begitu.
Teka-teki ini memaksa kita untuk melihat ke dalam cermin. Fakta bahwa kita merasa marah, sedih, dan mempertanyakan ketidakadilan di dunia ini adalah bukti bahwa di dalam diri kita ada kompas moral yang kuat. Kita peduli.
Entah kita memandang alam semesta ini sebagai mahakarya dari Sang Pencipta yang melampaui pemahaman kita, atau sebagai ruang hampa yang kebetulan melahirkan kehidupan, realitas di lapangan tetap sama. Penderitaan itu ada.
Namun, respons terhadap penderitaan itu juga ada.
Ketika bencana terjadi, perhatikanlah. Untuk setiap tragedi, selalu ada ribuan tangan yang terulur untuk membantu. Untuk setiap kejahatan, selalu ada orang-orang yang berdiri menuntut keadilan.
Mungkin, jawaban dari pertanyaan Epikuros ribuan tahun lalu bukanlah sebuah teori di atas kertas. Mungkin, jawabannya adalah kita. Kemampuan kita untuk bersimpati, untuk menangis bersama, dan untuk meringankan beban orang lain adalah satu-satunya penawar paling nyata untuk rasa sakit di dunia ini.
Dan selama kita masih bisa bertanya "kenapa", selama itu pula kita masih memiliki harapan untuk membuat dunia ini sedikit lebih baik dari hari kemarin.